Sabtu lalu, gue disibukkan dengan kegiatan yang sangat padat mulai dari pagi buta hingga malem. Ada beberapa rencana yang ga berjalan sebagaimana mestinya. Suatu keterlambatan yang berimbas pada keterlambatan rencana-rencana yang berada di belakangnya. Dari kejadian-kejadian itu menggelitik gue untuk menulis postingan ini.
Ga tau darimana awalnya, gue diminta untuk mengiringi paduan suara ibu-ibu guru pada acara pelepasan beberapa guru yang purna bakti, dan mutasi di salah satu sanggar di Jakarta. Awalnya gue agak berat (baca: males), klo aja bukan ibu gue yang minta langsung ke gue, dan gue tau ini menyangkut kredibilitas, nama baiknya di sanggar tersebut, dah pasti gue tolak permintaan itu dengan beribu alasannya. Hehe rese juga nyokap, pake segala promosi anaknya bisa ngelatih paduan suara, ujung-ujungnya gue-gue juga yang repot.
Setelah beberapa kali latihan, tibalah saat untuk nge-gigs Sabtu itu yang terjadwal jam 8 - 10 pagi. FYI, itu dah masuk setting-an waktu gue, karena pada hari yang sama, gue juga ada ngamen di Tangerang jam 12 siang-nya. Cukup dong jeda waktu 2 jam untuk perjalanan ke Tangerang. Nah, ternyata keadaan berkehendak laen, salah seorang guru purna bakti yang akan 'diperpisahanin' dipanggil Sang Pencipta di hari yang sama, pada pagi harinya. Kontan aja, semua yang terlibat di acara itu melayat. Show must go on , klo kata freddie mercury. Setelah pulang dari melayat, acara tetap dijalankan, cuma saja waktunya menjadi mulur dimulai dari jam 10 dan berakhir jam 12. (doh) punya mau, acaranya dah dibatalkan aja.
Dah ketebak kan gue menjadi bimbang, mau pilih tetap di acara tersebut atau nekat masa bodoh, peduli setan cabut langsung ke Tangerang. Ini masalah profesionalisme kerja, taelah , perjanjiannya mereka booking gue dari jam 8-10, tapi ini juga masalah hati nurani, gue ga tega untuk ninggalin emak-emak itu yang dah berdandan kebaya, nanti mereka kecewa dah latihan capek-capek tapi ga jadi tampil. Dengan mempertaruhkan job di Tangerang (berharap di sana pun acara akan mulur 1-2 jam), demi kelangsungan acara pelepasan guru, dan demi nama baik ibu gue juga, akhirnya gue memutuskan untuk tetap mengiringi para ibu guru itu bernyanyi.
Tepat jam 12, gue langsung memacu motor sekenceng-kencengnya ke tempat ketemuan sama nyos di pangkalan mikrolet. Matahari bersinar terik saat itu, meski demikian gue masih mencoba untuk tetap optimis dan sabar semua bisa terlewati dengan baik. Kondisi jalan yang macet, panas, lapar, haus, dan perasaan ga tenang untuk segera tiba di Tangerang telah menggerus kesabaran gue. Ditambah lagi setelah gue tau ternyata penyebab macet di jalan saat itu adalah para sopir angkot bandel yang memarkirkan kendaraannya (baca: ngetem) menunggu penumpang naik. Bodohnya mereka ngetem di jalan yang membuat kendaraan dibelakangnya terpaksa tersendat. Keluarlah kata-kata kasar, makian, yang dah meluap ga bisa ditahan. Segala teriakan saru keluar dari mulut gue dengan lantangnya, memaki setiap orang bodoh yang berkendara seenak jidadnya tanpa memperhatikan keselamatan pengendara lain. Thx god, akhirnya gue sampai juga di Tangerang dengan muka kayak kertas lecek.
-------------------
Waktu kecil gue ga pernah ngomong jorok, sampe gede pun mulut gue ga terbiasa untuk ngomong jorok dan kasar. Bukan bermaksud gue ini orang suci yang ga pernah ngomong kasar, sebelomnya gue juga pernah ngomong kasar tapi rasanya berat banget. Entah kenapa saat itu, siang itu semuanya lancar keluar dari mulut gue seakan-akan sebelomnya gue emang sering misuh-misuh di jalan. Mungkin karena tingkat stres yang tinggi di awal-awal kejadian.
Misuh-misuh, untuk sebagian orang menganggap hal itu kurang baik, karena dinilai kalah melawan emosi negatif dan membiarkan hati terbungkus oleh amarah. Misuh-misuh juga bisa dijadikan patokan atau takaran tingkat kecerdasan emosi seseorang, suatu kemampuan untuk mengatur segala bentuk emosi menjadi wajar adanya. Tapi pada kasus gue di atas, gue misuh-misuh di jalan cuma untuk membuka kran kedongkolan yang mampet -- yang kalo dibiarkan mampet akan berakibat gondok (bukan nama penyakit akibat kekurangan iodium). Beberapa detik setelah mengumpat dengan kata-kata kasar dan saru, gue merasa lega, ga ada kebencian yang tersisa di hati, semua amarah mengalir keluar seiring makian itu diteriakkan. Jiwa plong, kembali damai seperti sedia kala. Hehehe mungkin terkesan lebay, tapi emang begitu yang gue rasain. Gue misuh-misuh di jalan bukan berarti gue membenci orang yang gue misuhin, anggap aja orang itu tempat sampah yang kebetulan disediakan di jalan untuk menampung 'buangan' kedongkolan gue. No hard feelings.. :p
Dalam hal ini gue akuin gue plin-plan, satu sisi gue ga seneng nurutin emosi negatif gue, dan sisi satunya lagi gue menemukan 'manfaat' membuang segala kedongkolan yang gue rasain ke orang-orang yang gue temuin di jalan -- yang gue anggap berhak menerima dan menampung makian gue. Meski sebenernya gue sendiri juga ga mau dijadikan 'tong sampah' untuk menampung makian orang lain. (haha) Gue bukan orang baik, tapi gue selalu berusaha untuk menjadi baik.