Monday, October 12, 2009

hulu ke hilir

Tiba-tiba terfikir tentang perjalanan kehidupan manusia dari belum ada menjadi ada, kemudian dewasa. Dari pertemuan sel telur dan sel sperma hasil perpaduan kasih yang kemudian berbentuk seonggok daging, yang diberi nyawa, lalu lahir menjadi seorang bayi.

Apa yang bayi bisa lakukan selain terbaring lemah ga berdaya, cuma menangis, ga bisa bicara, ga bisa berjalan apalagi berlari dan melawan. Pada waktu itu manusia ga lebih hebat dari seekor kucing dewasa. Kemudian bayi berkembang bisa mengangkat kepala, membalikkan badan tengkurep, onggong-onggong, merangkak, berbicara, berdiri merembet, berjalan, berlari dan berlompat. Lalu dengan cinta kasih yang ibu curahkan, afeksi dan perhatian yang ayah berikan, jadilah seorang anak balita, disekolahkan, diajar budi pekerti, ilmu pengetahuan. kemudian berkembang menjadi manusia dewasa, yang sudah bisa buang air di tempat yang benar, bisa melawan, dan bisa membantah.

Terfikir bagaimana pesatnya perkembangan kemampuan manusia dibanding mahluk hidup lain di bumi ini. Karena manusia diberi akal pikiran dan rasa, banyak sudah prestasi manusia dalam inovasi teknologi dan budaya yang cukup membanggakan, dan saya rasa ga perlu lagi kita sebutkan disini. Apa yang manusia belom bisa hanyalah menandingi kekuatan semesta, yakni menahan waktu.

Terkadang malu banget klo kita yang sedang "lupa" kemudian diingatkan kembali siapa diri kita. Menelusuri kembali bagaimana perjalanan hidup bisa membantu saya bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan beri. Orang tua adalah perantara lahirnya kita menikmati hidup di dunia, dan sudah sepantasnya kita membalas kasih sayang yang telah mereka berikan selama ini. Hidup itu indah bila kita saling mengasihi dan menyayangi.

*diposting pada hari spesial seorang tersayang, selamat ulang tahun :) *

Tuesday, August 25, 2009

kado "istimewa"

wew, hari ini usia gue pas 29 tahun. gue bersyukur banget kepada yang maha kuasa karena sampai detik gue nulis postingan ini, gue masih diberi umur. padahal 4 jam sebelom ini, gue baru aja datang melayat seorang teman yang meninggal karena leukimia :'( *selamat jalan uci, semoga diberikan jalan lapang menuju keabadian*

29 suatu angka yang menurut gue kritis, terlebih saat ini kondisi gue yang blom sepenuhnya mapan, malah cenderung sedang turun. banyak hal sebelomnya yang blom bisa terselesaikan, ditambah lagi dengan persoalan hidup baru, menumpuk. sejujurnya gue sedang dalam keadaan tidak baik, dari segi finans, karir dan pendidikan, maupun kehidupan romans. buruknya gue bilang, gue sedang berada di titik terendah dalam 29 tahun perjalanan hidup gue. blom pernah gue merasa menjadi manusia paling gagal seperti saat ini, blom pernah gue merasa minder seminder sekarang, blom pernah gue hampir se frustasi sekarang. udahlah, gue ga mau berkeluh kesah panjang mengenai hidup gue, klo kate wa' aji, perbanyaklah bersyukur! karena dengan bersyukur elo akan menjadi orang lapang.

apa lah arti ulang tahun? sampai sekarang gue blom menemukan dimana letak kebahagiaan seseorang yang sedang berulang tahun. apakah kado-kadoan? atau ucapan dan doa-doa yang dipanjatkan dari orang? apakah merayakan hari lahir adalah suatu hal yang penting -- yang musti diingat orang jauh jauh hari sebelomnya?

sejujurnya, gue sangat kurang percaya diri menghadapi setiap pengulangan hari lahir. seakan berputar film di kepala gue, sebuah film tentang apa yang sudah gue jalani minimal satu tahun ke belakang. di salah satu adegannya diperlihatkan segala macam impian gue. apa aja yang dah gue capai dan apa yang blom gue capai. yang membuat gue takut untuk menonton kilas balik film tersebut adalah banyaknya impian dan cita-cita yang belom bisa diraih. sedangkan umur terus berjalan dan waktu ga bisa di pause. jangan bilang gue cuma mimpi tanpa usaha! gue dah berusaha mati-matian, siang malem jungkir balik demi mewujudkan impian. tapi mungkin emang belom waktunya, mungkin tuhan punya skenario lain, atau mungkin juga usaha gue blom sepenuhnya dinilai maksimal. segini juga gue musti bersyukur karena masih hidup, masih bisa nafas, masih bisa merasa, masih bisa makan dan minum.

bersyukur juga gue masih punya banyak temen di dunia nyata dan maya yang masih peduli dan perhatian, yang memberi motivasi dan semangat. banyak ucapan selamat dan doa dari temen-temen yang sama sekali gue ga kenal darimana asal muasal dan dimana juntrungannya, temen-temen di fesbuk dan plurk. gue bisa merasakan klo semua itu ikhlas diucapkan. terimakasih banyak temen-temen, untuk membuat gue merasa masih ada.(cozy) terimakasih atas doa-doanya, mudah-mudahan di umur yang banyak ini, gue masih dikasih kesempatan merasakan sukses. keep on fighting!!(gym)

menelan pil pahit

kembali gue musti menelan pil pahit dalam kehidupan romans. membuka mata pada kenyataan karena dah jatuh cinta dalem banget ke cewe yang dah bertunangan. gue blom pernah merasakan seserius ini untuk menjalin hubungan dengan cewe, gue blom pernah sesayang ini sama cewe, gue blom pernah setergila-gila ini, gue blom pernah seblak-blakan ini sm cewe, gue blom pernah ngerasa senyaman ini. dan ketika perasaan gue semakin dalem, semakin sakit yang gue rasa. siapa gue? gue bukan siapa-siapanya dia. sekarang gue baru bener-bener ngerasain betapa luhurnya makna kata "ikhlas". ketika gue musti ikhlas melepas sesuatu yang paling berharga dalam hidup. bagaimanapun juga, dari dia lah gue menemukan arti cinta di dalem diri gue. mencintainya adalah bahan bakar semangat gue untuk terus berjuang dalam hidup, meski gue ga bisa memiliki dia. "tamparan"nya malem ini membuka mata hati gue untuk bisa ikhlas dan lapang dada. karena sejatinya cinta adalah tulus, bersih, dan tanpa harap. ketika gue dah berada di suatu keadaan yang dinamakan sweet emotion :)

"love deeply and passionately. you might get hurt but it's the only way to live life completely"

Thursday, July 16, 2009

menahan ego bukan berarti bego

Lagi pengen sendiri, sengaja menjauhkan diri dari keramaian, mengurangi bicara, lebih senang mengamati dan bermain-main dengan khayalan. Bukan gue bermaksud lagi sombong, gue bener-bener lagi ga punya bahan obrolan, ga punya bahan yang lucu-lucu untuk di share. Jadi kegiatan gue sekarang lebih banyak ngulik musik, belajar, mengasah, latihan.

Mungkin emang dah dari sononya gue kurang begitu suka keramean, kebanyakan orang, apalagi harus dihadapkan dengan kegiatan yang bersifat korperatif yang melibatkan beberapa orang. Kecuali dalam bermusik, mau maen solo atau group hayo ajah.

Ngomong-ngomong soal ini, beberapa hari yang lalu gue berkenalan dengan gitaris klasik di suatu acara musik. Beliau bilang dirinya ga tertarik untuk ngeband karena lebih senang bermain sendiri (solo), dan beliau juga mengaku ga bisa untuk bermain musik bareng. Kenapa sih kok bisa begitu? apakah bermain musik bareng itu lebih sulit ketimbang bermain sendiri? Memang, ada beberapa hal yang mesti dimiliki pemain untuk bisa bermain musik bareng. Dari pengalaman selama 10 tahun bermusik serius, gue menyimpulkan intinya sih masing-masing pemain musti bisa nge- tune di dalamnya, untuk itu diperlukan skill bermusik yang jenjangnya ga terlalu jauh antar pemain. Oia, dan yang paling gue suka dalam bermusik group adalah adanya tuntutan untuk bisa menahan ego.

Postingan kali ini gue akan berbagi cerita tentang ego dan bermain musik bareng(band). Menurut gue, dalam bermusik ga ada kata salah atau benar, yang ada cuma enak dan ga enak. Karena musik adalah bagian dari seni, yang kodratnya adalah indah dan bebas. Wajar jika ada selisih paham tentang enak dan ga enak dalam bermusik, tapi bukan untuk saling menyalahkan. Di sini kesabaran untuk menahan ego sangat diperlukan, ga lucu juga kan klo berantem cuma masalah musik.. hehehe. Pada prakteknya banyak sekali perdebatan nantinya yang akan ditemui, mulai dari masalah kecil seperti tempo, beat, tone, aksen, pitch, timbre, bahkan ada yang melebar ke masalah teknik.

Untuk bisa membedakan enak dan ga enaknya, diperlukan pengalaman musikal, wawasan teoritikal, pendengaran yang bagus, dan rasa. Ukuran lamanya seseorang dalam bermusik kadang ga bisa dijadiin patokan, ada orang yang dah belasan tahun bermain musik tapi belom mahir membedakan nada dengan baik. Semakin sering melatih rasa dan pendengaran maka akan semakin mudah untuk membedakan enak atau ga enak.

Nah, gimana kalo terjadi perbedaan pendapat dalam bermusik? diskusikan aja, kemukakan argumen yang mendasari masing-masing pemikiran. Klo masih mentok juga? hehehe yang waras ngalah, yang kecil ngalah, yang duitnya lebih sedikit ngalah, yang lebih muda ngalah *curcol* huahahaha... keporo ngalah. Itulah suka duka klo maen musik bareng(band) , anggep aja ajang untuk melatih kesabaran, menahan ego untuk kemajuan bersama. Diskusi tetep perlu, gue juga akan menerima masukan (klo memang lebih bagus), dan ketika ga menemukan titik temu, "terserah elo aja". Hehehe.. gue pernah sesekali dapet tugas untuk maenin bagian riff gitar yang menurut gue dah enak tapi disuruh diganti dengan yang menurut gue kurang pas, dan gue cuma bilang, "dah elo aja yang maenin bagian itu" gue ga mau maenin bagian yang bertentangan dengan apa yang gue yakinin, klo menurut keyakinannya itu yang pas, ya udah maenin aja, tapi jangan gue yang maenin. hehehe.. begitu mudahnya bukan bermain musik bareng? yang penting jangan ngerasa terbebani, ga perlu ngotot mengedepankan ego, santai aja.. menahan ego bukan berarti bego ..hehehe.

Wednesday, July 1, 2009

Setahun kemarin..

Genap setahun sudah gue menjadi orang yang sangat bebas, pergi ke mana tempat yang gue mau tuju, ngomong apa aja yang mau gue omongin, memakai topeng jenis apapun yang pengen gue pakai, nulis apa aja yang pengen gue tulis. Persis seperti blog ini setahun lalu, dimana gue sedang gila-gila nya mengumbar segala ide untuk dibagi, membuat pertemanan dengan siapapun dengan memakai topeng apapun. Gue senang, sangat senang, meski topeng itu menutup pribadi gue yang asli. Sebenernya bukan perkara asli atau palsu, setahun kemaren adalah tetep gue juga, sama seperti gue yang dulu dan sekarang, cuma ada beberapa masalah yang seakan gue lupakan dan abaikan. Gue terlalu asyik dengan dunia semu ciptaan gue sendiri.

Setahun lalu adalah proses 'revolusi' dalam diri gue. Membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat, kasih sayang dan afeksi dari orang sekitar. Gue berhasil menjadi apa yang gue idam-idamkan selama ini, meski blom semuanya terwujud. Suka dan duka saling ganti mengisi. Teman-teman baru berdatangan, singgah sebentar lalu pergi lagi. All things must pass.. beberapa wanita yang sempat mengisi hari-hari gue dalam setahun itu.. hehe.. hidup adalah sebuah persinggahan dalam suatu perjalanan panjang. Terimakasih dah diberi kesempatan mengenal secuil dari hidup kalian. Gue atau kalian yang 'menjauh' itu bukan soal, mungkin kita adalah orang-orang yang tersesat dalam perjalanan masing-masing dan dipertemukan dalam ketidaksengajaan. Kita adalah para petualang yang mencari arti dari kata "klik".  Hahaha.. jadi inget kalimat "bukan perpisahan yang kutangisi, melainkan pertemuan yang kusesali" :p Kita tetep teman bukan?

Jenuh dengan kegiatan blogging yang gue rasa cukup menyita waktu, gue mulai menaruh perhatian dengan plurk, sebuah micro blogging yang gue rasa jauh lebih simple dibanding blog seperti yang gue tulis sekarang. Di sana gue temuin sebuah dunia baru lagi, teman baru. Gue sangat kerasan meski di awal-awal ga sedikit orang yang ga bisa nerima gue sebagai teman, hehe.. ga masalah, toh sampai sekarang pun gue masih bertahan di sana. Efek yang timbul adalah gue semakin males untuk menulis panjang, seperti yang anda lihat di blog ini, terbengkalai!!.. Plurk adalah tempat gue membuang sampah, uneg-uneg, kegilaan yang ga bisa gue salurkan di dunia nyata, sampai menjadi tempat menemukan beberapa teman baik yang sampai sekarang masih berhubungan baik. Thanks to you all.. (worship) semoga pertemanan kita langgeng. (drinking)

Jadi, selama setahun belakangan ini gue terlalu asyik dengan khayalan dan imajinasi gue. Gue nyaman dengan hal itu dan ga akan pernah menyesalinya. Banyak juga ide-ide yang kemudian muncul dari beberapa khayalan gue. Tapiii, sekarang gue rasa adalah saat yang baik untuk bangun, keluar dari kenyamanan yang selama ini membuat terlena, untuk merealisasikan mimpi-mimpi gue, membenahi segala permasalahan hidup yang sengaja gue sembunyiin. Dah cukup semua energi tersimpan, sekarang gue dah fresh lagi, siap tempur!! Gue dah menentukan arah tujuan, serta langkah-langkahnya. Alangkah senangnya bila saat keberhasilan nanti, gue masih berada dikelilingi teman-teman yang pernah gue kenal, yang pernah dan yang masih ada di sini. Tuhan penguasa alam semesta, berilah kekuatan dan kesabaran.. I know I can make it.. amin.

Sunday, May 3, 2009

temu kangen teman lama

Siang tadi gue menghadiri undangan gathering temen-temen lawas SMP 52 Jakarta angkatan '95 yang bertempat di HEMA Dutch Resto, Tebet. Ini merupakan kali pertama gue ketemu lagi dengan temen-temen yang udah hampir 14 tahun ga ketemu. Gathering kali ini cuma dihadiri 15 orang yang berhasil di "pungut" dari belantara dunia maya, ga banyak memang, tapi cukup bagi gue untuk mengobati rasa kangen campur keingintahuan kabar dari mereka (yang mewakili satu angkatan).

Selepas dari SMP 14 tahun silam, gue kehilangan kontak dengan teman-teman. Maklum, waktu sekolah gue emang ga terlalu dikenal dan bukan seleb, hehe. Bagi gue waktu itu, setelah lulus adalah sebuah kehidupan baru dimana gue harus menghadapinya. Ga ada alasan buat gue untuk mengenang kembali kehidupan masa sekolah, karena emang ga ada sesuatu disana yang tertinggal selain kenangan kecil. Gue ga punya kisah-kisah spesial atau kisah romantis di masa sekolah yang bisa dijadiin kenangan, semuanya berjalan biasa aja. Ga ada temen cewe yang membuat gue tertarik!! hahaha.. ya iya, masih kecil gitu, ngeliatnya masih anak-anak, culun-culun.

Gue kurang menyukai reuni, karena reuni sama seperti mengubah susunan pakaian yang sudah tertumpuk rapi di dalam lemari. Membongkar semua kenangan kembali muncul, padahal itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Alasan lainnya adalah karena gue merasa dah ga lagi menjadi bagian dari mereka dan masa itu, maksudnya gue khawatir gue akan sedikit canggung menghadapi kawan yang udah bertahun-tahun ga ketemu, sehingga keadaan tersebut "memaksa" gue untuk jaim, persis seperti bertemu teman baru lagi. Gue ga begitu suka keadaan jaim, seperti terbelenggu. :p

Sebenernya gathering ini bukan yang pertama kali diadakan. Dulu, waktu masih jaman friendster, udah pernah dicoba gathering, tapi gue blom sempet bisa dateng. Kali ini, facebook, sebuah situs jejaring sosial yang sedang trend saat ini berhasil me-recollect beberapa teman yang sering berseliweran di dunia online. Ada-lah beberapa teman yang ga pernah putus semangat mencoba untuk menyambung kembali tali silaturahim, mengumpulkan teman-teman SMP yang ga tau dimana rimbanya. Terimakasih atas upaya temen-temen untuk acara gathering kali ini. Gue seneng banget hari ini bisa ketemu kalian: Rila, Adhe, Adhie, Cok, Lia, Faisal, Waldy, Rossy, Anna, Leliwa, Zaki, Uci, Safrina, Firly dan anaknya. Ternyata kekhawatiran gue ga terbukti, gue sangat menikmati setiap detik bersama kalian. Sebenernya malah waktunya terlalu sebentar, 4 jam kurang cukup untuk "mengenal kembali" kalian, biarlah rasa keingintahuan ini gue simpan untuk gathering-gathering yang akan datang. Mudah-mudahan Tuhan memberi kita rezeki dan umur panjang, untuk gathering selanjutnya dengan peserta lebih banyak lagi. amin.

Monday, April 27, 2009

menahan atau menuruti marah?

Sabtu lalu, gue disibukkan dengan kegiatan yang sangat padat mulai dari pagi buta hingga malem. Ada beberapa rencana yang ga berjalan sebagaimana mestinya. Suatu keterlambatan yang berimbas pada keterlambatan rencana-rencana yang berada di belakangnya. Dari kejadian-kejadian itu menggelitik gue untuk menulis postingan ini.

Ga tau darimana awalnya, gue diminta untuk mengiringi paduan suara ibu-ibu guru pada acara pelepasan beberapa  guru yang purna bakti, dan mutasi di salah satu sanggar di Jakarta. Awalnya gue agak berat (baca: males), klo aja bukan ibu gue yang minta langsung ke gue, dan gue tau ini menyangkut kredibilitas, nama baiknya di sanggar tersebut, dah pasti gue tolak permintaan itu dengan beribu alasannya. Hehe rese juga nyokap, pake segala promosi anaknya bisa ngelatih paduan suara, ujung-ujungnya gue-gue juga yang repot. 

Setelah beberapa kali latihan, tibalah saat untuk nge-gigs Sabtu itu yang terjadwal jam 8 - 10 pagi. FYI, itu dah masuk setting-an waktu gue, karena pada hari yang sama, gue juga ada ngamen di Tangerang jam 12 siang-nya. Cukup dong jeda waktu 2 jam untuk perjalanan ke Tangerang. Nah, ternyata keadaan berkehendak laen, salah seorang guru purna bakti yang akan 'diperpisahanin' dipanggil Sang Pencipta di hari yang sama, pada pagi harinya. Kontan aja, semua yang terlibat di acara itu melayat. Show must go on , klo kata freddie mercury. Setelah pulang dari melayat, acara tetap dijalankan, cuma saja waktunya menjadi mulur dimulai dari jam 10 dan berakhir jam 12. (doh) punya mau, acaranya dah dibatalkan aja.

Dah ketebak kan gue menjadi bimbang, mau pilih tetap di acara tersebut atau nekat masa bodoh, peduli setan cabut langsung ke Tangerang. Ini masalah profesionalisme kerja, taelah , perjanjiannya mereka booking gue dari jam 8-10, tapi ini juga masalah hati nurani, gue ga tega untuk ninggalin emak-emak itu yang dah berdandan kebaya, nanti mereka kecewa dah latihan capek-capek tapi ga jadi tampil. Dengan mempertaruhkan job di Tangerang (berharap di sana pun acara akan mulur 1-2 jam), demi kelangsungan acara pelepasan guru, dan demi nama baik ibu gue juga, akhirnya gue memutuskan untuk tetap mengiringi para ibu guru itu bernyanyi.

Tepat jam 12, gue langsung memacu motor sekenceng-kencengnya ke tempat ketemuan sama nyos di pangkalan mikrolet. Matahari bersinar terik saat itu, meski demikian gue masih mencoba untuk tetap optimis dan sabar semua bisa terlewati dengan baik. Kondisi jalan yang macet, panas, lapar, haus, dan perasaan ga tenang untuk segera tiba di Tangerang telah menggerus kesabaran gue. Ditambah lagi setelah gue tau ternyata penyebab macet di jalan saat itu adalah para sopir angkot bandel yang memarkirkan kendaraannya (baca: ngetem) menunggu penumpang naik. Bodohnya mereka ngetem di jalan yang membuat kendaraan dibelakangnya terpaksa tersendat. Keluarlah kata-kata kasar, makian, yang dah meluap ga bisa ditahan. Segala teriakan saru keluar dari mulut gue dengan lantangnya, memaki setiap orang bodoh yang berkendara seenak jidadnya tanpa memperhatikan keselamatan pengendara lain. Thx god, akhirnya gue sampai juga di Tangerang dengan muka kayak kertas lecek.

-------------------

Waktu kecil gue ga pernah ngomong jorok, sampe gede pun mulut gue ga terbiasa untuk ngomong jorok dan kasar. Bukan bermaksud gue ini orang suci yang ga pernah ngomong kasar, sebelomnya gue juga pernah ngomong kasar tapi rasanya berat banget. Entah kenapa saat itu, siang itu semuanya lancar keluar dari mulut gue seakan-akan sebelomnya gue emang sering misuh-misuh di jalan. Mungkin karena tingkat stres yang tinggi di awal-awal kejadian.

Misuh-misuh, untuk sebagian orang menganggap hal itu kurang baik, karena dinilai kalah melawan emosi negatif dan membiarkan hati terbungkus oleh amarah. Misuh-misuh juga bisa dijadikan patokan atau takaran tingkat kecerdasan emosi seseorang, suatu kemampuan untuk mengatur segala bentuk emosi menjadi wajar adanya. Tapi pada kasus gue di atas, gue misuh-misuh di jalan cuma untuk membuka kran kedongkolan yang mampet -- yang kalo dibiarkan mampet akan berakibat gondok (bukan nama penyakit akibat kekurangan iodium). Beberapa detik setelah mengumpat dengan kata-kata kasar dan saru, gue merasa lega, ga ada kebencian yang tersisa di hati, semua amarah mengalir keluar seiring makian itu diteriakkan. Jiwa plong, kembali damai seperti sedia kala. Hehehe mungkin terkesan lebay, tapi emang begitu yang gue rasain. Gue misuh-misuh di jalan bukan berarti gue membenci orang yang gue misuhin, anggap aja orang itu tempat sampah yang kebetulan disediakan di jalan untuk menampung 'buangan' kedongkolan gue. No hard feelings.. :p

Dalam hal ini gue akuin gue plin-plan, satu sisi gue ga seneng nurutin emosi negatif gue, dan sisi satunya lagi gue menemukan 'manfaat' membuang segala kedongkolan yang gue rasain ke orang-orang yang gue temuin di jalan -- yang gue anggap berhak menerima dan menampung makian gue. Meski sebenernya gue sendiri juga ga mau dijadikan 'tong sampah' untuk menampung makian orang lain. (haha) Gue bukan orang baik, tapi gue selalu berusaha untuk menjadi baik.

Saturday, April 11, 2009

nikmatnya (bisa) berbagi

Tulisan ini dibuat untuk selalu mengingatkan saya akan nikmatnya berbagi. Ini merupakan pengalaman saya beberapa minggu lalu, ketika diajak seorang teman untuk berguru tentang amplifier di daerah Citayam, Bogor.

Kebetulan profesi yang saya geluti kerap kali berhubungan dengan suara, dan kali ini saya musti terus menggali ilmu tentang sound yang dihasilkan dari sebuah amplifier. Saya sangat buta sekali tentang pengetahuan sound. Selama ini saya cuma mempelajari tentang akustik yang ga memerlukan kelistrikan, tinggal main dan semuanya terdengar sama persis seperti bunyi apa yang saya keluarkan. Ketika keadaan menuntut saya untuk mengeksplor suara yang dihasilkan dari amplifier, mau ga mau saya harus menimba ilmu dari ahlinya.

Ternyata memainkan gitar elektrik ga segampang memainkan gitar akustik. Klo pada gitar akustik, kita bisa menghasilkan bunyi-bunyian yang berbeda cukup hanya dengan menggunakan teknik petik, posisi memetik, dan sedikit kemampuan untuk pengayaan bunyi. Berbeda dengan memainkan gitar elektrik, selain teknik picking, ketebalan pick, ukuran senar yang dipakai, perlu juga dilengkapi dengan pengetahuan mengatur sound pada amplifier agar bunyi yang keluar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Pendek kata, memainkan gitar elektrik ga segampang perkiraan saya sebelomnya, "tinggal plug and play".

Adalah Doggie, seorang ahli tentang suara kelistrikan pada gitar yang bersedia membagi pengetahuannya dari nol sampai saya mengerti apa itu low, mid, high, gain, pre amp, dan lain lain. Sebuah ilmu ekstra yang ga saya dapet dalam wadah pendidikan formal. Mungkin bagi sebagian pembaca, hal tersebut adalah hal biasa saja, namun engga bagi saya, karena sebelumnya saya betul-betul buta dan ga tau fungsi dari tiap-tiap pengatur yang ada di amplifier umumnya. 

Cara Doggie memberi ilmunya juga ga asal-asalan, dimulai dari teori paling awal, dia menerangkan dengan sungguh-sungguh, tertata rapi, dilengkapi dengan berbagai simulasi gelombang bunyi, persis seperti seorang dosen yang memberikan perkuliahan privat. Dan semua itu saya dapat dengan cuma-cuma. Sebuah 'perkuliahan' yang dikemas dalam hampir 6 jam yang sangat berarti, saya dapat gratis darinya. Padahal saya ga kenal dia sebelumnya, sungguh suatu perlakuan yang sangat jarang saya terima pada jaman sekarang dimana segala sesuatu selalu dinilai dengan uang. Apa yang saya dapat dari pertemuan itu adalah ilmu dasar tentang amplifier namun bener-bener bermanfaat buat saya. Berbekal ilmu yang dasar itu, saya bisa mengembangkan kemampuan sendiri dengan mengeksplor bunyi. Ketika ada yang ingin saya tanyakan, doggie bersedia membuka konsultasi via telepon.

Saya sangat terkesan dengan pertemuan itu. Banyak hal yang bisa saya ambil darinya, tapi lebih dari itu semua, ada nilai positif yang bisa saya tiru, yaitu keikhlasan berbagi ilmu dan pengalaman. Ga perhitungan dengan waktu yang dibuang dan ilmu yang dia miliki untuk orang yang membutuhkan -- yang baru kenal sekalipun. Doggie, mantan karyawan yang kini fokus membuka usaha sendiri dengan membuat efek bermerk revolt ini akan selalu membuka pintu rumahnya untuk siapa saja yang mau belajar tentang sound. Alangkah nikmatnya bisa berbagi apa yang kita punya untuk kebaikan orang lain. Bermanfaat untuk orang lain.